Minggu, 30 Januari 2011

tawa dan tangis

alsofwah.or.id-Tangis dan tawa, dua hal yang bertentangan dan dalam logika sederhana, dua hal yang bertentangan tidak terkumpul pada saat yang sama dan tidak hilang bersama pada waktu yang sama, maka tidak ditemukan orang menangis sekaligus tertawa, atau tertawa sekaligus menangis pada saat bersamaan, atau orang yang diam sekaligus bergerak atau bergerak sekaligus diam, karena dua hal yang bertentangan tidak berkumpul di waktu yang bersamaan.

Tetapi mungkin bila tangis diikuti tawa sesudahnya atau tawa diiringi tangis setelahnya, jarang memang, tetapi bukan sesuatu yang mustahil karena ia bukan menyatukan dua hal yang bertentangan, akan tetapi mengiringkan salah satu dengan yang lain setelah yang lain pergi, menangis manakala perkara yang dia ketahui patut untuk diberi tangisan, namun begitu tahu perkara lain yang membahagiakan dan layak disikapi dengan tertawa, maka dia pun tertawa.

Tangis dan setelahnya tawa terjadi di hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada diri putri beliau Fatimah. Saat itu waktu Dhuha, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanggil putrinya Fatimah, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya dan Fatimah pun menangis seketika. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta Fatimah untuk mendekat, beliau membisikkan sesuatu kepadanya dan seketika dia pun tertawa.

Ada apa gerangan? Tertawa hadir tidak lama setelah tangisan. Rasa penasaran menyergap Aisyah, istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menyaksikan pemandangan tersebut. Dia berkata, “Beberapa hari berikutnya kami bertanya kepada Fatimah tentang hal itu, dan Fatimah menjawab, ‘Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan kepadaku bahwa beliau meninggal pada saat yang beliau alami saat itu, maka aku pun menangis. Lalu beliau membisikkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa aku adalah orang pertama dari keluarga beliau yang akan menyusul beliau, dan aku pun tertawa.”

Tiada kesedihan melebihi kesedihan karena wafatnya ayahanda terkasih, lebih-lebih sang ayah adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sesuatu yang layak membuat orang lain, apalagi anak untuk menangis. Di sisi yang lain tiada kebahagiaan melebihi kebahagiaan menyusul ayahanda terkasih untuk menemaninya di sisi Rabbil alamin dalam naungan rahmat dan nikmatNya. Maka tangis pun segera berganti dengan tawa.

Dari ar-Rahiqul Makhtum, al-Mubarakfuri.

aku tidak laku (alsofwah.or.id)

Imam at-Tirmidzi berkata, Ishaq bin Manshur menyampaikan kepada kami, Abdurrazzaq menyampaikan kepada kami dari Tsabit dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki dari daerah pedalaman bernama Zahir, dia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa hadiah dari pedalaman, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyiapkan perbekalannya bila dia hendak pulang. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Zahir adalah orang pedalaman kita dan kita adalah orang kotanya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyukai Zahir dan dia adalah laki-laki yang berwajah tidak tampan. Suatu hari saat dia menjual barangnya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghampirinya dan merangkulnya dari belakang, karena dia tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka dia berkata, “Siapa ini? Lepaskan aku.” Namun akhirnya dia menengok dan mengetahui bahwa orang yang merangkulnya adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia tidak bergerak karena punggungnya menempel dengan dada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat dia mengetahuinya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membeli hamba ini?” Zahir menyela, “Ya Rasulullah, kalau demikian maka aku tidak laku.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Akan tetapi di sisi Allah kamu tetap laku.” Atau beliau bersabda, “Kamu di sisi Allah mahal.”

Seorang mukmin di sisi Allah bukan dengan wajahnya akan tetapi dengan iman dan amalnya, wajah boleh pas-pasan, serba kurang, namun bila iman mantap dan amal tebal, maka dia berharga tinggi di sisiNya, sebaliknya bila iman goyah dan amal tipis, sekalipun wajah serba lebih, maka dia berharga murah bahkan bisa saja tidak berharga. Zahir boleh saja tidak tampan, dia mungkin kurang laku di sisi manusia, namun di sisi Allah dia mahal harganya, mulia kedudukannya.

Sama dengan Zahir, Tsabit bin Qais al-Anshari, khatib Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, rupanya pas-pasan, hal ini diakui oleh istrinya, sampai-sampai dia menuntut khulu’ kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena itu, tetapi agama dan akhlaknya, jempolan dan tidak disangsikan, bagaimana tidak sementara dia adalah salah satu penghuni surga dengan kesaksian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Abdullah bin Mas'ud, orang-orang menertawakan kedua kakinya yang ringkih, tetapi siapa kira bahwa keduanya dalam timbangan akhirat lebih berat dari gunung Uhud. Demikianlah seorang mukmin memiliki nilai khusus di sisi Allah, bukan dengan jasadnya, bukan dengan ketampanannya, akan tetapi dengan apa yang ada dalam hatinya dan terlihat dari perbuatannya. Wallahu a’lam.

Senin, 02 Agustus 2010

SATU KESULITAN MUSTAHIL MENGALAHKAN 2 KEMUDAHAN

1 Kesulitan Mustahil
Mengalahkan 2
Kemudahan
Kamis, 22 Juli 2010
04:00
“ Sudah beberapa
bulan kami
menjalankan usaha
lewat toko online,
dua toko yang kami
buat, namun belum
juga mendapatkan
hasil yang
memuaskan”,
begitulah kira-kira
curhat seorang
sahabat. Solusi yang
disarankan oleh si
penerima curhat
yaitu menyuruhnya
untuk bersabar dan
ia pun
menghiburnya
dengan perkataan,
“ Satu kesulitan
mustahil
mengalahkan dua
kemudahan. ” Kata-
kata ini membuat si
pendengar semakin
percaya diri. Ia
begitu yakin bahwa
Allah pasti akan
memberinya
kemudahan dan
pertolongan.
Betul Sekali, Satu
Kesulitan Mustahil
Mengalahkan Dua
Kemudahan
Para pembaca pasti
sudah seringkali
mendengar ayat
berikut,
َّنِإَف َعَم
ِرْسُعْلا
اًرْسُي
“Karena
sesungguhnya
sesudah kesulitan
itu ada
kemudahan. ” (QS.
Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang
setelah itu,
َّنِإ َعَم
ِرْسُعْلا
اًرْسُي
“Sesungguhnya
sesudah kesulitan
itu ada
kemudahan. ” (QS.
Alam Nasyroh: 6).
Kita sering
mendengar ayat ini,
namun kadang hati
ini lalai, sehingga
tidak betul-betul
merenungkannya.
Atau mungkin kita
pun belum
memahaminya.
Padahal jika ayat
tersebut betul-betul
direnungkan
sungguh luar biasa
faedah yang dapat
kita petik. Jika kita
benar-benar
mentadabburi ayat
di atas, sungguh
berbagai
kesempitan akan
terasa ringan dan
semakin mudah kita
pikul. Marilah kita
coba merenungkan
bagaimanakah
tanggapan para
pakar tafsir
mengenai ayat di
atas.
Para pakar tafsir
menerangkan
bahwa kesulitan
yang disebutkan
dalam ayat di atas
hanyalah satu
karena ia
menggunakan isim
ma ’rifah (sesuatu
yang sudah
tertentu),
maksudnya
kesulitan pertama
sama dengan
kesulitan kedua.
Sedangkan
kemudahan dalam
ayat tersebut
adalah dua karena ia
menggunakan isim
nakiroh (sesuatu
yang
penunjukannya
belum tertentu),
maksudnya
kemudahan
pertama dan kedua
itu berbeda.
Jadinya, kesulitan
yang ada itu hanya
satu, sedangkan
kemudahan itu dua.
[1]
Al Hasan Al Bashri
mengatakan bahwa
ketika turun surat
Alam Nasyroh ayat
5-6, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
اوُرِشْبأ
ُمُكاتأ
ُرْسُيلا، ْنَل
َبِلْغَي
ٌرْسُع
ِنْيَرْسُي
“Kabarkanlah
bahwa akan datang
pada kalian
kemudahan. Karena
satu kesulitan tidak
mungkin
mengalahkan dua
kemudahan.”
Perkataan yang
sama disampaikan
oleh Qotadah.
Qotadah
mengatakan,
“ Diceritakan pada
kami bahwa
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah
memberi kabar
gembira pada para
sahabatnya dengan
ayat di atas, lalu
beliau mengatakan,
ْنَل َبِلْغَي
ٌرْسُع
ِنْيَرْسُي
“Satu kesulitan
tidak mungkin
mengalahkan dua
kemudahan. ”[2]
Sahabat mulia,
‘ Abdullah bin
Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu
pernah berkata,
“ Seandainya
kesulitan masuk ke
dalam suatu lubang,
maka kemudahan
pun akan
mengikutinya
karena Allah Ta ’ala
berfirman (yang
artinya), “Karena
sesungguhnya
sesudah kesulitan
itu ada kemudahan.
Sesungguhnya
sesudah kesulitan
itu ada
kemudahan.”[3]
Ibnul Mubarok
berkata dalam “Al
Jihad” bahwa
‘Umar bin Al
Khottob pernah
menulis surat
kepada Abu
‘ Ubaidah yang baru
tiba di Syam dan
dihadang oleh
musuh kala itu. Isi
tulisan ‘Umar
adalah, “Amma
ba’du, tidaklah
Allah menurunkan
kesulitan pada
seorang mukmin
melainkan setelah
itu Allah akan
datangkan
kegembiraan
padanya. Karena
ingatlah, satu
kesulitan mustahil
mengalahkan dua
kemudahan.”
Kemudian dalam
surat tersebut
‘ Umar
menyebutkan ayat,
اَي اَهُّيَأ
َنيِذَّلا
اوُنَمَآ
اوُرِبْصا
اوُرِباَصَو
اوُطِباَرَو
“Hai orang-orang
yang beriman,
bersabarlah kamu
dan kuatkanlah
kesabaranmu dan
tetaplah bersiap
siaga (di perbatasan
negerimu) dan
bertakwalah kepada
Allah, supaya kamu
beruntung. ” (QS. Ali
Imron: 200)[4]
Berbagai riwayat di
atas, semuanya
menerangkan
maksud yang sama
yaitu di balik
kesulitan ada
kemudahan yang
begitu dekat. Itulah
maksud dari
perkataan “satu
kesulitan mustahil
mengalahkan dua
kemudahan ”.
Kemudahan akan
terus mengikuti
kesulitan dalam
keadaan sesulit apa
pun. Allah Ta ’ala
berfirman,
ُلَعْجَيَس
ُهَّللا َدْعَب
ٍرْسُع اًرْسُي
“Allah kelak akan
memberikan
kelapangan sesudah
kesempitan. ” (QS.
Ath Tholaq: 7). Ibnu
Katsir mengatakan,
“ Janji Allah itu
pasti, tidak mungkin
Allah
menyelisihinya. ”[5]
Yakinlah bahwa di
balik setiap
kesulitan pasti ada
kemudahan yang
begitu dekat.
Mujahid
mengatakan,
“ Kemudahan akan
senantiasa
mengikuti
kesulitan. ”[6]
Tawakkal Jadi
Sebab Utama Keluar
dari Kesempitan
Di awal-awal
kesulitan, kadang
belum datang
pertolongan atau
jalan keluar. Namun
ketika kesulitan
semakin memuncak,
semakin di ujung
tanduk, maka
setelah itu
datanglah
kemudahan.
Mengapa demikian?
Karena di puncak
kesulitan, hati sudah
begitu pasrah. Hati
pun menyerahkan
seluruhnya pada
Allah, Rabb tempat
bergantung segala
urusan. Itulah
hakekat tawakkal.
Tawakkal dengan
bersandarnya hati
pada Allah-lah, itulah
sebab semakin
mudahnya
mendapatkan jalan
keluar dari kesulitan
yang ada.
Ibnu Rajab Al
Hambali
rahimahullah
berkata, “Jika
kesempitan itu
semakin terasa sulit
dan semakin berat,
maka seorang
hamba jadi putus
asa. Demikianlah
keadaan hamba
ketika tidak bisa
keluar dari
kesulitan. Ketika itu,
ia pun
menggantungkan
hatinya pada Allah
semata. Akhirnya, ia
pun bertawakkal
pada-Nya. Tawakkal
inilah yang menjadi
sebab keluar dari
kesempitan yang
ada. Karena Allah
sendiri telah berjanji
akan mencukupi
orang yang
bertawakkal pada-
Nya. Sebagaimana
Allah Ta ’ala
berfirman,
ْنَمَو
ْلَّكَوَتَي
ىَلَع ِهَّللا
َوُهَف
ُهُبْسَح
“Dan barangsiapa
yang bertawakkal
kepada Allah niscaya
Allah akan
mencukupkan
(keperluan)nya. ” (QS.
Ath Tholaq: 3)”[7]
Butuh Adanya
Kesabaran
Setelah kita
mengetahui berita
gembira bagi orang
yang mendapat
kesulitan dan
kesempitan yaitu
akan semakin dekat
datangnya
kemudahan, maka
sikap yang wajib
kita miliki ketika itu
adalah bersabar dan
terus bersabar.
Artinya, ketika sulit,
hati dan lisan tidak
berkeluh kesah,
begitu pula anggota
badan menahan diri
dari perilaku
emosional seperti
menampar pipi dan
merobek baju
sebagai tanda tidak
ridho dengan
ketentuan Allah. [8]
Sabar menanti
adanya kelapangan
adalah solusi paling
ampuh dalam
menghadapi
masalah, bukan
dengan mengeluh
dan berkeluh kesah.
Imam Asy Syafi ’i
pernah berkata
dalam bait syair,
اربَص اليمَج ام
َبَرقأ اجرَفلا ...
نَم بَقاَر هللا
يف رومألا اَجَن ...
نَم قَدَص هللا
مَل هْلَنَي
ىَذأ ... نَمَو
هاَجَر نوكَي
ُثيَح اَجَر ...
Bersabarlah yang
baik, maka niscaya
kelapangan itu
begitu dekat.
Barangsiapa yang
mendekatkan diri
pada Allah untuk
lepas dari kesulitan,
maka ia pasti akan
selamat.
Barangsiapa yang
begitu yakin dengan
Allah, maka ia pasti
tidak merasakan
penderitaan.
Barangsiapa yang
selalu berharap
pada-Nya, maka
Allah pasti akan
memberi
pertolongan. [9]
Dalam syair Arab
dikatakan, “Sabar
itu seperti namanya,
pahit rasanya,
namun akhirnya
lebih manis daripada
madu. ”
Semoga Allah
senantiasa
memudahkan kita
meraih kelapangan
dari kesempitan
yang ada. Haruslah
kita yakin badai
pasti berlalu: “After
a storm comes a
calm ”. Hanya Allah
yang memberi
taufik.
Pangukan-Sleman,
28 Jumadits Tsani
1431 H, 11/06/2010
Penulis: Muhammad
Abduh Tuasikal
Artikel Majalah
Pengusaha Muslim
edisi Juli 2010 ,
dipublish ulang oleh
www.rumaysho.com
[1] Keterangan Ibnu
Katsir dalam Tafsir
Al Qur ’an Al
‘Azhim, 14/392,
Muassasah
Qurthubah.
[2] Riwayat-riwayat
ini adalah riwayat
mursal, dikeluarkan
oleh Ibnu Jarir Ath
Thobari dalam kitab
tafsirnya. Lihat
Tafsir Ath Thobari,
24/496, Dar Hijr.
Riwayat mursal
adalah riwayat yang
terputus sanadnya
pada akhir sanad,
yaitu setelah
tabi’in. Riwayat ini
dho’if (lemah)
sebagaimana
dikatakan oleh
Syaikh Al Albani
dalam Dho ’iful
Jaami’ no. 4784.
[3] Dikeluarkan oleh
Ath Thobari, 24/496.
[4] Lihat Siyar
A’lam An Nubala,
Adz Dzahabi, 1/15,
Mawqi ’ Ya’sub
dan Tarikh Dimasyq,
Ibnu ‘Asakir,
25/477, Darul Fikr.
[5] Tafsir Al Qur’an
Al ‘Azhim, 14/42.
[6] Dikeluarkan oleh
Ath Thobari, 24/497.
[7] Jaami’ul wal
Hikam, Ibnu Rajab Al
Hambali, hal. 238,
Darul Muayyid,
cetakan pertama,
tahun 1424 H.
[8] Lihat ‘Uddatush
Shobirin wa
Zakhirotusy
Syakirin, Ibnu
Qayyim Al Jauziyah,
hal. 10, Dar At
Turots, cetakan
pertama, tahun
1410 H.
[9] Tafsir Al Qur’an
Al ‘Azhim, 14/ 392.

Minggu, 20 Juni 2010

HIKMAH ASY-SYAFI'I ( alsofwah.or.id)

Imam asy-Syafi'i, salah seorang Imam dari Imam Empat Serangkai yang kesohor, imamahnya diakui dan disepakati oleh kaum muslimin, beliau menguasai berbagai cabang dan disiplin ilmu, tidak hanya itu ternyata beliau adalah seorang hakim, ahli hikmah, dengan pengalaman hidup dan pergaulannya yang luas dengan para ulama besar, menempa beliau menjadi seorang yang bijak, kaya dengan berbagai pengalaman berharga.

Imam asy-Syafi'i berkata tentang keutamaan ilmu,


طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاةِ النَافِـلَةِ

“Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah”


مَا تُقُرِّبَ إِلَى اللهِ تعالى بِشَيْءٍ بَعْدَ أَدَاءِ الفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ العِلْمِ

“Seseorang tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu setelah melaksanakan perkara-perkara fardhu yang lebih utama daripada mencari ilmu.”

Imam asy-Syafi'i berkata tentang urgensi ilmu


مَنْ أَرَادَ الدُنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلْعِلْمِ

“Barangsiapa menginginkan dunia maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu."


مَنْ لايُحِبُّ الْعِلْمَ لاخَيْرَ فِيْهِ وَلايَكُونُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ صَدَاقَةً وَلامَعْرِفَةً


“Barangsiapa tidak menyukai ilmu maka tidak ada kebaikan padanya, tidak ada antara dirimu dengan dirinya pertemanan dan hubungan".

Imam asy-Syafi'i berkata tentang adab mencari ilmu


مَا أَفْلَحَ فِي الْعِلْمِ إِلا مَنْ طَلَبَهُ فِي القِلَّةِ, وَلَقَدْ كُنْتُ أَطْلُبُ القِرْطَاسَ فَيَعْسُرُ عَليّ

“Tidak berhasil di bidang ilmu kecuali orang yang mencarinya dengan kesederhanaan, aku pernah mencari kertas dan tidak mendapatkannya.”


لا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا العِلْمَ بِالمُلْكِ وَعِزِّ النَفْسِ فَيُفْلِحُ, وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِذِلَّةِ النَفْسِ وَضِيْقِ العَيْشِ وَخِدْمَةِ العِلْمِ وَتَوَاضُعِ النَفْسِ أَفْلَحَ

“Seseorang tidak mencari ilmu ini dengan kekuasaan dan ketinggian jiwa kecuali dia tidak beruntung, akan tetapi siapa yang mencarinya dengan kerendahan jiwa, kesederhanaan hidup, kesedian berkhidmat kepada ilmu dan tawadhu’, dialah yang akan berhasil.”


مَنْ طَلَبَ عِلْمًا فَلْيُدَقِّقْ لِئَلا يَضِيْعَ دَقِيْقُ العِلْمِ

“Barangsiapa mencari ilmu maka hendaknya dia teliti agar bagian ilmu yang memerlukan ketelitian tidak lepas darinya.”


وَدِدْتُ أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ يَعْلَمُهُ النَاسُ أُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَلا يَحْمَدُوْنِي قَطْ

“Aku berharap meraih pahala dari semua ilmu yang diketahui oleh manusia dariku dan mereka tidak hanya memujiku saja.”

Dari al-Majmu’, Imam an-Nawawi

Rabu, 19 Mei 2010

SÍAPA BERANI LEBIH TINGGI? alsofwah.or.id

Di zaman khilafah al-
faruq Umar bin al-
Khatthab, kaum
muslimin ditimpa
kekeringan panjang,
didera kemarau yang
membinasakan
tanaman dan
mengeringkan
hewan-hewan
ternak, kaum
muslimin dalam
kesulitan dan
kesempitann hidup
yang luar biasa,
tahun akhirnya
dikenal dengan
tahun ar-Ramadah,
tahun ar-Ramadah
adalah tahun di
mana bumi kering-
kerontang karena
tidak kunjung
disiram hujan dalam
waktu yang sangat
panjangn sehingga
warnanya seperti ar-
ramad (abu kayu
bakar) dan orang-
orang pun kelaparan,
maka tahun tersebut
dinamakan
demikian.karena
kerasnya paceklik
dan beratnya
kesulitan hidup.
Kesulitan yang
menimpa manusia
semakin meningkat,
kesengsaraan yang
menedera mereka
semakin meningkat,
di suatu pagi orang-
orang menghadap
kepada Umar,
mereka berkata,
“Wahai Amirul
Mukminin,
sesungguhnya langit
tidak menurunkan
airnya dan bumi
tidak menumbuhkan,
orang-orang sudah
berada di jurang
kebinasaan. Lakukan
sesuatu untuk
mereka?”
Umar memandang
mereka dengan
wajah yang teriris
oleh kesedihan,
hatinya tersayat
pedih oleh
penderiataan
mereka, dia hanya
bisa menjawab,
“Bersabarlah dan
berharaplah pahala
dari Allah. Aku
berharap Allah
mengangkat
kesulitan yang
menimpa kalian
dalam waktu
dekat.”
Siang hampir berlalu
saat orang-orang
membaicarakan
kafilah dagang milik
Usman bin Affan
yang datang dari
Syam yang akan tiba
di Madinah di pagi
hari dan shalat
Shubuh ditunaikan,
maka orang-orang
langsung
berhamburan
berduyun-duyun
menyambut kafilah
dagang. Tak
tertinggal, pedagang
dan saudagar
Madinah pun ikut
menyambut, kafilah
yang terdiri dari
seribu ekor unta
dengan gandum di
punggungnya,
minyak, kismis dan
bahan-bahan
makanan yang lain.
Unta-unta itu
menderum di depan
rumah Usman bin
Affan, para pelayan
mulai menurunkan
muatan di
punggungnya.
Saudagar-saudagar
sibuk menemui
Usman, mereka
berkata, “Juallah
apa yang baru tiba
kepada kami, wahai
Abu Amru.” Usman
menjawab, “Dengan
senang hati, tetapi
berapa keuntungan
yang kalian
tawarkan
kepadaku?” Mereka
menjawab, “Satu
dirham dengan dua
dirham.”
Usman berkata,
“Ada yang berani
lebih tinggi dari itu.”
Maka mereka
menaikkan tawaran.
Usman berkata,
“Ada yang berani
lebih tinggi dari
tambahan kalian
itu.” Mereka pun
menaikkan tawaran.
Usman berkata,
“Ada yang berani
lebih tinggi dari itu.”
Maka mereka
berkata, “Wahai
Abu Amru, di Madinah
ini tidak ada
pedagang lain selain
kami dan tidak ada
yang mendahului
kami kepadamu. Lalu
siapa yang berani
lebih tinggi daripada
kami?”
Usman menjawab,
“Allah, Dia
memberiku sepuluh
dirham dengan
setiap satu dirham.
Ada yang berani lebih
tinggi?” Mereka
menjawab, “Tidak
wahai Abu Amru.”
Maka Usman
berkata,
“Sesungguhnya aku
menjadikan Allah
sebagai saksi bahwa
aku mensedekahkan
muatan kafilah
kepada orang-orang
miskin kaum
muslimin, aku tidak
mencari dinar atau
dirham dari sispa
pun. Aku hanya
mencari pahala dan
ridha Allah.”
Benarlah Rasulullah
saw yang
sebelumnya berkata,
“Ma dharra Usman
ma amila ba’dal
yaum.” Tidak
merugikan Usman
apa yang dia lakukan
setelah hari ini.
Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)

APAKAH KAMU GILA? alsofwah.or.id

Pada suatu malam
yang gelap, Umar bin
Abdul Aziz masuk ke
sebuah mesjid. Ia
melewati seseorang
yang tidur hingga ia
tersandung olehnya.
Orang tersebut
bangun dan melihat
ke atas seraya
berkata: “Apakah
kamu gila?”. Sang
khalifah, Umar bin
Abdul Aziz
menjawab:
“Tidak”. Lalu
datanglah para
pengawal khalifah
hendak memukul
laki-laki tersebut,
namun sang khalifah
berkata: “Tahan,
tidak ada apa-apa, ia
hanya bertanya
apakah aku gila, dan
aku jawab,
‘Tidak.”
Umar bin Abdul Aziz
mempunyai putra
dari Fatimah,
putranya bermain-
main bersama anak-
anak, seorang anak
melukai kepalanya,
maka orang-orang
membawa putra
Umar dan anak yang
melukainya kepada
Fatimah, Umar yang
sedang berada di
rumahnya yang lain
mendengar
kegaduhan, maka dia
keluar. Seorang
wanita datang, dia
berkata, “Ini adalah
anakku, dia anak
yatim.” Umar
bertanya, “Apakah
dia mendapatkan
jatah pemberian
negara?” Dia
menjawab,
“Belum.” Maka
Umar berkata,
“Tulislah namanya
dalam deretan
anaka-anak.” Maka
Fatimah berkata,
“Semoga Allah
melakukan
terhadapnya dan
melakukan, jika dia
tidak melukai
anakku untuk kedua
kalinya.” Maka
Umar berkata,
“Kalian menakut-
nakutinya.”
Suatu hari Umar bin
Abdul Aziz sangat
marah kepada
seseorang, maka
Umar
memerintahkan agar
orang tersebut
ditangkap lalu diikat,
tukang cambuk
sudah hadir, maka
Umar berkata,
“Biarkan dia
pergi.” Kemudian
dia berkata, “Kalau
aku sedang tidak
marah niscaya aku
sudah
menghukummu.”
Umar membaca
firman Allah Ta'ala,
“Dan orang-orang
yang menahan
amarah dan
memaafkan
manusia.” (Ali
Imran: 134).
Suatu hari Umar bin
Abdul Aziz hendak
istirahat siang,
seorang laki-laki
menghadangnya, dia
memegang gulungan
kertas, orang-orang
mengira bahwa laki-
laki ini ingin
menemui Amirul
Mukminin, laki-laki
itu khawatir mereka
akan menghalang-
halanginya, maka dia
melemparkan
kertas, Umar
menoleh maka
gulungan kertas itu
mengenai wajahnya
dan melukainya.
Darah menetes dari
wajahnya
sementara dia
berdiri di bawah
terik matahari, dia
tidak meninggalkan
tempat, dia
membaca kertas lalu
memerintahkan agar
keperluan laki-laki ini
ditunaikan dan dia
dibiarkan pergi.
Seorang laki-laki
mencaci Umar, Umar
tidak menjawabnya,
maka dia ditanya,
“Mengapa engkau
tidak menjawab.”
Umar menjawab,
“Orang yang
bertakwa itu
terkendali.”
Seorang laki-laki
berdiri di depan Umar
bin Abdul Aziz yang
sedang berkhutbah,
laki-laki itu berkata
kepadanya, “Aku
bersaksi bahwa
engkau termasuk
orang-orang fasik.”
Maka Umar
menjawab, “Dari
mana kamu tahu?
Kamu sendiri telah
bersaksi dengan
kepalsuan, maka
kesaksianmu tidak
diterima.”
Seorang laki-laki
berdiri kepada Umar
bin Abdul Aziz pada
saat dia di atas
mimbar, laki-laki ini
mencacinya dan
membuat Umar
marah, maka Umar
berkata kepadanya,
“Wahai bapak,
kamu ingin agar
setan mendorongku
untuk melakukan
dengan kekuatan
kekuasaan
terhadapmu hari ini
sesuatu yang kelak
kamu akan
melakukan hal sama
terhadapku. Pergilah
semoga Allah
mengampunimu.”
Diriwayatkan bahwa
seorang anak laki-
laki Umar bin Abdul
Aziz pulang dengan
menangis, Umar
bertanya kepadanya,
“Mengapa kamu
menangis?” Dia
menjawab, “Fulan
hamba sahaya
memukulku.” Maka
fulan dihadirkan,
Umar bertanya
kepadanya,
“Apakah kamu
memukulnya?” Dia
menjawab, “Ya.”
Umar berkata,
“Pergilah, kalau aku
menghukum
seseorang karena
kejujurannya
niscaya aku
menghukummu.
Pergilah.” Wallahu
a’lam.
(Izzudin Karimi)

Senin, 19 April 2010

LAGI-LAGI BABAK BELUR (alsofwah.or.id)

Banyak orang yang
menghindari hal
yang satu ini, lumrah
memang, siapa yang
mau babak belur
merasakan sakit,
tapi tidak dengan
sebagian orang yang
memiliki jiwa besar
dan hati teguh,
mereka ini justru
menganggap hal
semacam ini sebagai
sesuatu yang
menantang mereka
untuk mencicipinya
dan ternyata setelah
mereka mencicipinya
mereka
merasakannya
nikmat yang
membuat mereka
ingin mengulang.
Abdullah bin
Mas’ud, dialah
muslim pertama
yang melantunkan
al-Qur`an di muka
bumi ini secara
terbuka setelah
Rasulullah saw, dan
karenanya dia babak
belur dihantam
pukulan orang-orang
yang membenci
kitab Allah, namun
dia masih berani
untuk mengulangnya
kalau sahabat-
sahabatnya tidak
mencegahnya.
Suatu hari para
sahabat Nabi saw
sedang berkumpul di
Makkah, saat itu
jumlah mereka
masih sedikit dan
mereka belum
mempunyai
kekuatan. Mereka
berkata, “Demi
Allah, Quraisy belum
pernah mendengar
al-Qur`an yang
dibacakan dengan
keras di depan
mereka. Siapa
gerangan yang
berani
melakukannnya?”
Abdullah bin Mas’ud
menjawab, “Aku
yang akan
melakukannya.”
Mereka berkata,
“Kami
mengkhawatirkanmu,
kami menginginkan
seorang laki-laki
yang mempunyai
sanak kerabat yang
akan menjaga dan
melindunginya dari
mereka jika mereka
ingin berbuat jahat
kepadanya.”
Abdullah berkata,
“Biarkan aku
melakukannya, Allah
akan melindungiku
dan menjagaku.”
Kemudian Abdullah
berangkat ke masjid,
dia menuju Maqam
Ibrahim di waktu
Dhuha, saat itu
orang-orang Quraisy
sedang duduk di
sekeliling Ka’bah,
Abdullah berdiri di
atas Maqam dan
membaca, “Dengan
nama Allah yang
Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang –
dengan suara
lantang- Tuhan yang
Maha Pemurah, yang
telah mengajarkan
al-Quran. Dia
menciptakan
manusia.
Mengajarnya pandai
berbicara.” (Ar-
Rahman: 1-4).”
Abdullah terus
membacanya, maka
orang-orang Quraisy
mulai
memperhatikannya,
mereka berkata,
“Apa yang
diucapkan oleh Ibnu
Ummi Abd? Celaka
dia, dia membaca
sebagian yang
dibawa oleh
Muhammad.”
Maka mereka
menghampirinya,
mereka memukuli
wajahnya
sementara Abdullah
terus membaca
sampai dia mampu
membaca, kemudian
dia pulang kepada
para sahabatnya
dengan darah
menetes dari
tubuhnya. Mereka
berkata kepadanya,
“Inilah yang kami
takutkan akan
menimpamu.”
Maka Abdullah
berkata, “Demi
Allah, musuh-musuh
Allah itu tidak lebih
remeh bagiku
melebihi hari ini.
Kalau kalian ingin,
besok aku akan
melakukannya
lagi.”
Mereka berkata,
“Jangan, kamu
telah membuat
mereka mendengar
apa yang tidak
mereka sukai.”
Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)